Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Masjid Agung Kauman Pekalongan

Masjid Agung Kauman Pekalongan adalah sebuah masjid di Pekalongan Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di alun alun kota Pekalongan. Masjid peninggalan sejarah ini menjadi salah satu ciri khas Kota Pekalongan. Meskipun telah dibangun beberapa Masjid baru yang tak kalah megahnya, namun Masjid Agung Kauman ini tetap tak tergantikan sebagai simbol islami warga Pekalongan.

Masjid ini sudah berusia 158 tahun. Pembangunan masjid ini diprakarsai Raden Ario Wirio Tumengung Adi Negoro. Ruangan-ruangan di masjid ini, terutama tempat salat utama, banyak dihiasi ornamen asli. Kayu-kayunya masih dari bahan-bahan yang pertama kali digunakan untuk pembangunan masjid. Di bangunan utama ada delapan tiang kayu yang dikombinasikan dengan 22 tiang beton. Atap kayunya juga masih asli menggunakan batang kayu dan tak ada sambungannya. Masjid Agung Al Jami berarsitektur Jawa-Arab. Ini bisa dilihat dari kubahnya yang berbentuk joglo. Sementara arsitek Arab nampak dari serambi masjid. Di depan ruangan masjid ada tiga ruangan. Di tengah tempat iman. Sebelah kanan mimbar tempat khatib memberikan ceramah, dan bagian kiri tadinya khusus tempat bupati saat itu beribadah. Namun kini ruangan tersebut sudah tak diistimewakan lagi. Di sebelah kanan bangunan masjid terdapat menara masjid.

Saat Ramadhan masjid ini selalu ramai dengan orang yang akan berbuka puasa, panitia masjid agung selalu menyediakan ta’jil untuk berbuka mulai dari makanan ataupun minuman dengan total ta’jil lebih dari 200 buah. Sembari menunggu berbuka kami selalu ada kajian islami selain diadakannya tarawih berjamaah yang terkadang dihadiri oleh wali kota atau wakil wali kota Pekalongan. Kegiatan keagamaan saat malam ahad ada pengajian sehabis taraweh, ada pula khataman al-qu’ran, dan pembagian zakat fitrah saat Idul fitri tiba.

Tradisi unik saat bulan Ramadan terdapat dua jamaah shalat tarawih dengan jumlah rakaat berbeda. Satu sisi, ada satu jamaah shalat tarawih dengan 23 rakaat. Satunya jamaah shalat tarawih 11 rakaat. Kebiasaan unik itu bisa jadi hanya ada di Masjid Jami Kota Pekalongan di wilayah pantura, bahkan Indonesia. Kendati beda rakaat, bukan alasan untuk tidak menjaga ukhuwah islamiyah. Mereka tetap rukun, saling menghormati, dan menghargai. Sebelum shalat tarawih, kedua golongan itu shalat isya berjamaah dengan satu imam. Shalat tarawih dimulai bersama-sama. Usai rakaat kedelapan, sebagian keluar dari shaf, kemudian mundur membentuk shaf sendiri di belakang. Selanjutnya mereka melaksanakan shalat witir tiga rakaat.Usai shalat witir, jamaah itu turun dari masjid. Sementara, jamaah sebelumnya tetap melanjutkan shalat tarawih hingga 23 rakaat, termasuk shalat witir. Tradisi itu sudah berjalan sejak dulu

sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Kauman_Pekalongan

Sabtu, 01 Maret 2014

Bioskop Pertama di Pekalongan


Pekalongan sebenarnya punya sejarah tontonan yang panjang, jauh sebelum ada bioskop di banyak kota di Indonesia , tahun 1950 an Kota  Pekalongan sudah punya  bioskop,  namanya  Rex dan Capitol, sebuah gedung Bioskop  dengan bangunan arsitektur bergaya Art Deco  berlokasi di pinggir alun-alun kota Pekalongan, yang pada era 70an berubah nama menjadi Bioskop Rahayu dan Fajar.   di Era 70 an itu Pekalongan juga mengenal bioskop Irama di daerah gambaran.

Di era 80an  kota seluas 45 Km2  ini, mempunyai  6 gedung bioskop , sebut  nama ada Merdeka, Remaja, GajahMada, Rahayu, Fajar, dan Mataram  belum lagi ditambah 2 bioskop  di bilangan pinggiran Pekalongan seperti bioskop Cakra dan Semar di Kedungwuni, Bioskop Garuda di Banyuurip  plus lagi bioskop Misbar ( Gerimis Bubar, bioskop di area terbuka, di sekitar pantai Boom).

Bioskop Remaja, yang terletak berhadapan langsung dengan Bioskop Merdeka, bisa jadi satu-satunya bioskop di dunia yang di bagian dalam gedungnya ada kafe yang tidak hanya menyediakan makanan ringan, tapi juga Es Campur dan Bakso. Artinya kita bisa duduk di sisi samping, semacam bar, menonton sambil menyantap bakso.

Bicara tontonan berkesenian di Kota Pekalongan pada era 70 – 80 an,  Pekalongan mempunyai  keseniannya sendiri.  Pekalongan punya Gambus dan Samproh, dua kesenian bermusik yang erat dengan kultur  sebagian orang Pekalongan yang santri  dan dekat dengan  budaya arab itu. Meski begitu , di luar Gambus dan Samproh, kesenian jenis lain pun tetap punya tempat untuk jadi tontonan di Pekalongan. Orang Pekalongan bisa nonton wayang.  Orang Pekalongan bisa menerima music Rock  macam Ucok  AKA band tampil  dan jadi tontonan, bisa menerima penampilan musik Pop  KoesPlus yang pernah dua kali manggung di Pekalongan. Antusias yang luar biasa dan menjadi  tontonan dan pesta rakyat  Pekalongan untuk penampilan Rhoma Irama beserta  Sonetanya di Stadion Kraton.  Bahkan satu Group Ketoprak  sebagai budaya jawa mataraman ala Jogjapun bisa tampil  berbulan-bulan di Alun-alun Pekalongan yang tiap malamnya  menampilkan  lakon yang berganti-ganti dan tidak pernah sepi penonton.

Tapi tetaplah bioskop adalah kesetiaan  penghibur yang setiap saat bisa didatangi, menariknya adalah, film-film Hollywood kurang mendapat tempat di hati orang Pekalongan, film-film India menempati Rating pertama pilihan orang Pekalongan, saat saya SMP saya  sungguh tak kenal nama Elizabeth Taylor, Farah Fawcett atau Jack Nicholson, tapi nama-nama seperti  Hemamalini, Amitha bachan dan Shashi Kapoor sungguh saya hapal dan ingat,  itu lah bintang film kelas dunia untuk ukuran orang Pekalongan.

Rating kedua film yang diminati oleh orang Pekalongan adalah Film-film silat mandarin  produksi SB, jauh sebelum era Jacky Chan atau Andy Lau, orang-orang Pekalongan sudah tergila-gila dengan silat ala Wang Yu dan tentu juga Bruce Lee sang legenda itu, (haiyaa…au…au…).

Bagaimana  dengan Film Indonesia ?, Oh…semua jenis film nampaknya punya segmen pasar sendiri dan laku di bioskop Pekalongan, tapi  bintang film sekelas Rano Karno dan Yessy Gusman yang jadi idola kala itu , penggemarnya  tetap kalah dibanding penggemar Film-film Rhoma Irama. Penggemar Film-film Rhoma Irama nampaknya hanya bisa disaingi oleh penggemar film – film Warkop DKI yang selalu diputar saat lebaran tiba.

Di Era 70-80 an , pilihan menonton lebih banyak karena siapa bintang film yang bermain,  bukan karena resensi yang dibaca dari berbagai media seperti saat ini, yang menarik adalah bagaimana pihak pengelola bioskop mempromosikan film ini kepada khalayak. Mereka menggunakan iklan di radio lokal, dan mobil pickup keliling, dimana mobil itu bagian bak belakang dipasangi pajangan gambar film, dan disiapkan pengeras suara  “TOA”, lewat pengeras suara itulah ada sesorang yang mempromosikan berkeliling. Yang menarik adalah sarana mobil keliling ini bisa diganti dengan Becak, ya…becak Pekalongan yang lebar itu.

Waktu saya kecil setiap ada mobil atau becak keliling yang mewartakan film, saya selalu berusaha mendekat,  ikut berlari mengikutii dan melompat-lompat di belakang Mobil atau becak tersebut.

Jangan terlalu berharap menonton dengan tingkat  kenyamanan yang tinggi,  maklumlah sepanjang film diputar,  asap rokok terus mengepul,  dan menyesakkan nafas bercampur dengan berbagai  aroma balsam yang terus digosok-gosokan penonton lainnya di jidat dan keningnya sepanjang film berlangsung. Masih ada penonton bersarung menonton dengan jongkok di kursi dari kayu sambil memakan kacang rebus dan membuang kulitnya sembarangan, dan terus berkomentar sepanjang film diputar. Mereka menonton sambil jongkok lantaran tidak nyaman atas kemungkinan gigitan kepinding (bangsat) yang hidup nyaman disela-sela kursi bioskop.

Interaksi antara penonton dan film saat film diputar pun sangat menarik, ketika sang jagoan tampil , penonton akan sibuk bertepuk tangan bahkan bersuit-suit. Ketika sang Jagoan terlibat adegan berantem dan menghajar para pecundang, penonton menjadi semakin riuh bertepuk tangan, dan terdengar teriakan, “kewok… terus kewok, syoookoooor koe”, “edannah bajingane kuwate  te pok kae si”, luar biasa mereka mengekspresikan  diri sepanjang film diputar tanpa peduli apakah ini mengganggu penonton yang lain atau tidak.

Bisa jadi  menonton menjadi katup pembuka dari kesumpekan hidup sahari-hari warga Pekalongan,  dengan membayar  Rp 750 kelas satu, Limaratus rupiah kelas dua dan  350 rupiah kelas tiga , mereka berhak untuk menumpahkan segala ekspresinya.

Di era 80 an, menonton dalam suasanya keriuhan ini semakin berkurang, bahkan ketika Bioskop Gajahmada mulai dengan konsep tontonan di Balkon dan ber AC penonton sudah dilarang merokok. Dan pengumuman besar terpampang sebelum film diputar “Dilarang merokok, jika masih ada yang merokok film akan dimatikan”. Di Awal Gajahmada berdiri, petugas bioskop sibuk mengambil  rokok penonton yang tetap saja merokok sepanjang film berlangsung. Ternyata,  perubahan itu memang ndak mudah apalagi perubahan perilaku.

Tahukah  apakah hari yang paling banyak penontonnya ?, Malam minggu ?, bukan…, malan Jumat. Ini sungguh khas Pekalongan, karena di era 70 -80 an para buruh pekerja informal ( terutama industri batik dan kain)  justru libur di Hari Jumat. Kamis sore adalah hari yang paling membahagiakan bagi mereka, lantaran itulah waktunya menerima upah kerja, yang dikenal dengan sebutan pocokan.  Dan malamnya mereka ramai menonton di Bioskop.  Seorang rekan pernah bilang, inilah ke egaliteran ala orang Pekalongan, pada hari itu, tidak peduli apakah dia seorang buruh, tidak peduli  apakah dia seorang juragan, mereka nonton bersama,  di bangku yang bersebelahan tanpa ada lagi perbedaan kelas diantara keduanya. Juragan dan buruh sama-sama berhak untuk  "keplok" (bertepuk tangan).

Sejak era 90 an dihantam oleh perilaku monopoli  di system pendistributian film di Indonesia, era kejayaan bioskop di Pekalongan justru tidak berkembang dan pudar secara perlahan. Meski di Era itu hadir lagi satu bioskop Atrium 21 , tapi bioskop – bioskop di luar group tersebut seperti sesak nafas dan menuju sekarat , maklumlah mereka tidak bisa mendapatkan film-film yang layak jual, padahal film adalah darah keberlangsungan hidup bioskop. Runtuhnya bisnis bioskop lama dan munculnya wajah baru dengan angka 21 tidak hanya terjadi di Pekalongan tapi di seluruh Indonesia.

Menjelang jadi pusara banyak bioskop ini berusaha bertahan.  Saat saya balik Pekalongan kala itu (era 90 an saya sudah bekerja di luar Pekalongan), seorang sahabat  saya semasa kecil, mengajak saya menonton di Bioskop Fajar. Ada yang menarik, penontonnya cukup banyak, sebelum pertunjukan dimulai kami disuguhi orkes musik  dangdut dengan pemain lokal secara live, sebagian penonton nampaknya datang sudah tidak lagi untuk menonton filmnya tapi mau melihat orkes dangdutnya.

Ternyata banyak cara dilakukan oleh pengelola bioskop untuk memperpanjang napas mensiasati menjelang kematian, seperti bioskop Fajar dengan orkes Dangdutnya.

Saat ini, tak ada lagi bioskop di Pekalongan  yang bersisa semua tinggal pusara, bioskop mati, budaya menononton bioskop ala Pekalonganpun ikut mati.
 
sumber:http://www.askarlo.org

Kamis, 27 Februari 2014

Awal Terciptanya Komputer

Awal mula komputer yang sebenarnya dibentuk oleh seoarng profesor matematika Inggris, Charles Babbage (1791-1871). Tahun 1812, Babbage memperhatikan kesesuaian alam antara mesin mekanik dan matematika : mesin mekanik sangat baik dalam mengerjakan tugas yang sama berulangkali tanpa kesalahan; sedang matematika membutuhkan repetisi sederhana dari suatu langkah-langkah tertentu. Masalah tersebut kemudain berkembang hingga menempatkan mesin mekanik sebagai alat untuk menjawab kebutuhan mekanik. Usaha Babbage yang pertama untuk menjawab masalah ini muncul pada tahun 1822 ketika ia mengusulkan suatu mesin untuk melakukan perhitungan persamaan differensil. Mesin tersebut dinamakan Mesin Differensial. Dengan menggunakan tenaga uap, mesin tersebut dapat menyimpan program dan dapat melakukan kalkulasi serta mencetak hasilnya secara otomatis. Setelah bekerja dengan Mesin Differensial selama sepuluh tahun, Babbage tiba-tiba terinspirasi untuk memulai membuat komputer general-purpose yang pertama, yang disebut Analytical Engine. Asisten Babbage, Augusta Ada King (1815-1842) memiliki peran penting dalam pembuatan mesin ini. Ia membantu merevisi rencana, mencari pendanaan dari pemerintah Inggris, dan mengkomunikasikan spesifikasi Anlytical Engine kepada publik. Selain itu, pemahaman Augusta yang baik tentang mesin ini memungkinkannya membuat instruksi untuk dimasukkan ke dlam mesin dan juga membuatnya menjadi programmer wanita yang pertama. Pada tahun 1980, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menamakan sebuah bahasa pemrograman dengan nama ADA sebagai penghormatan kepadanya. Mesin uap Babbage, walaupun tidak pernah selesai dikerjakan, tampak sangat primitif apabila dibandingkan dengan standar masa kini. Bagaimanapun juga, alat tersebut menggambarkan elemen dasar dari sebuah komputer modern dan juga mengungkapkan sebuah konsep penting. Terdiri dari sekitar 50.000 komponen, desain dasar dari Analytical Engine menggunakan kartu-kartu perforasi (berlubang-lubang) yang berisi instruksi operasi bagi mesin tersebut. Pada 1889, Herman Hollerith (1860 1929) juga menerapkan prinsip kartu perforasi untuk melakukan penghitungan. Tugas pertamanya adalah menemukan cara yang lebih cepat untuk melakukan perhitungan bagi Biro Sensus Amerika Serikat. Sensus sebelumnya yang dilakukan di tahun 1880 membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan perhitungan. Dengan berkembangnya populasi, Biro tersebut memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan perhitungan sensus. Hollerith menggunakan kartu perforasi untuk memasukkan data sensus yang kemudian diolah oleh alat tersebut secara mekanik. Sebuah kartu dapat menyimpan hingga 80 variabel. Dengan menggunakan alat tersebut, hasil sensus dapat diselesaikan dalam waktu enam minggu. Selain memiliki keuntungan dalam bidang kecepatan, kartu tersebut berfungsi sebagai media penyimpan data. Tingkat kesalahan perhitungan juga dapat ditekan secara drastis. Hollerith kemudian mengembangkan alat tersebut dan menjualnya ke masyarakat luas. Ia mendirikan Tabulating Machine Company pada tahun 1896 yang kemudian menjadi International Business Machine (1924) setelah mengalami beberapa kali merger. Perusahaan lain seperti Remington Rand and Burroghs juga memproduksi alat pembac kartu perforasi untuk usaha bisnis. Kartu perforasi digunakan oleh kalangan bisnis dn pemerintahan untuk permrosesan data hingga tahun 1960. Pada masa berikutnya, beberapa insinyur membuat p enemuan baru lainnya. Vannevar Bush (1890- 1974) membuat sebuah kalkulator untuk menyelesaikan persamaan differensial di tahun 1931. Mesin tersebut dapat menyelesaikan persamaan differensial kompleks yang selama ini dianggap rumit oleh kalangan akademisi. Mesin tersebut sangat besar dan berat karena ratusan gerigi dan poros yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan. Pada tahun 1903, John V. Atanasoff dan Clifford Berry mencoba membuat komputer elektrik yang menerapkan aljabar Boolean pada sirkuit elektrik. Pendekatan ini didasarkan pada hasil kerja George Boole (1815-1864) berupa sistem biner aljabar, yang menyatakan bahwa setiap persamaan matematik dapat dinyatakan sebagai benar atau salah. Dengan mengaplikasikan kondisi benar-salah ke dalam sirkuit listrik dalam bentuk terhubung-terputus, Atanasoff dan Berry membuat komputer elektrik pertama di tahun 1940. Namun proyek mereka terhenti karena kehilangan sumber pendanaan.

Awal Mula Komputer Masuk Ke indonesia

Indonesia di era 1970an merupakan negara yang baru akan berkembang. Teknologi Informasi baru mulai diperkenalkan di Indonesia, serta didominasi oleh instansi Pemerintah seperti Pertamina dan Pemda DKI. Secara umum, daya beli masyarakat dan swasta nasional masih sangat lemah. Pada saat tersebut, sebuah instalasi komputer dapat berharga jutaan dollar, menempati ruangan yang besar, serta membutuhkan listrik dan pendinginan yang besar. Teknologi komunikasi data pada saat tersebut bekisar antara 50 – 300 baud.

Di lingkungan Universtas Indonesia (UI), Teknologi Informasi dirintis seorang dosen dari Fakultas Kedokteran, yaitu Indro S. Suwandi PhD (m. 1986). Almarhum setelah mendirikan Pusat Ilmu Komputer (PUSILKOM) UI pada tahun 1972 hanya dengan modal semangat dan idealisme. Almarhum, kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memperkenalkan teknologi ini, baik di kalangan perguruan tinggi maupun industri. Ditahun tahun itu juga permintaan pemasangan dan penggunaan peralatan komputer semakin meningkat terutama pada instansi-instansi Pemerintah sehingga Pemerintah merasa perlu untuk mengadakan pengaturan pemanfaatan peralatan komputer dengan membentuk suatu badan yang dikenal dengan nama BAKOTAN (Badan Koordinasi Otomatisasi Administrasi Negara) pada tanggal 4 Juli 1969 yang berfungsi sebagai konsultan bagi instansi-instansi yang akan membeli atau menyewa peralatan komputer.
 
Sebagai konsekuensi dari penggunaan peralatan komputer adalah perlu disediakannya tenaga kerja yang mampu menangani tidak hanya peralatan komputernya tetapi juga seluruh faset yang terlibat di dalam pengelolaan komputerisasi. Pengetahuan yang diberikan dalam rangka penyediaan tenaga kerja itu adalah relatif terbatas. Ruang lingkup pendidikannya diarahkan kepada merek/tipe mesin yang bersangkutan.
Masalah komputerisasi dalam bidang pendidikan memasuki perguruan tinggi sebagai salah satu mata pelajarannya terutama pada Fakultas Teknik (Jurusan Teknik Elektro), Fakultas Ekonomi (Jurusan Manajemen). Kebanyakan materi yang diberikan adalah pengenalan komputer dan komputerisasi.
Pada tahun 1977 muncul pendidikan tinggi spesialisasi computer management di Jakarta di tingkat akademi yang bertujuan mendidik tenaga kerja manajerial dan mempunyai kemampuan teknis dalam bidang komputer dan komputerisasi dengan predikat Sarjana Muda Lengkap.
Pada tanggal 21-24 Oktober 1980 di Jakarta dilangsungkan Konferensi Komputer Regional Asia Tenggara SEARCC ’80 (South East Asia Regional Computer Conference 1980) di mana para pesertanya dari ASEAN, India, dan Hongkong. Di samping konferensi diadakan pameran mengenai peralatan komputer yang dipasarkan di Indonesia.
Akhir tahun 1981, Michael Sunggiardi memulai bisnis komputernya di Bogor. Awalnya ia hanya menjalankan bisnisnya tanpa niat yang serius. Dimulai dari hobby mengutak-atik barang elektronik, ia kemudian mempelajari teknik audio, televisi, videotape recorder (yang pada era 80-an merupakan alat hiburan yang cukup popular) hingga Compact Disc Player (CD Player), sehingga ia memiliki keterampilan teknis dalam bidang elektronika, dan kemudian mulai mengajar di sejumlah kursus computer dan kursus elektronik di Jakarta, sambil menyambi bisnis dan kuliahnya.
 
Tahun 1982 Michael mendirikan perusahaan PT Batutulis Graha Komputronika bersama 3 orang temannya di Jakarta dan Bogor. Mula-mula ia meletakkan komputer di toko buku milik ayahnya di Bogor, dan hal itu ternyata menarik perhatian sejumlah pelanggan. Karena para karyawan tidak paham mengenai computer, mereka mengundang penanya-penanya tadi untuk kembali hari sabtu dan mendapatkan penjelasan dari Michael mengenai computer dan cara pengoperasiannya. Hal ini berlanjut sampai tahun 1984-1985, ketika ia mulai memiliki staff yang membantunya menerangkan dan mengajari tentang computer.
 
Tahun 1986-an, Michael berangkat ke Amerika dan kemudian memperoleh sertifikasi di Ventura Publisher users di Santa Barbara sehingga dikenal sebagai one of the first Asian yang memiliki sertifikasi. Pada tahun yang sama, Michael mendirikan computer club/klub komputer Pangkalan PC yang ketika itu anggotanya mencapai 2.000 orang. Salah satunya adalah Izak Jeni, orang Indonesia yang membuat VoIP Free World Dial Up bersama Jeff Parvour di New York. Antara tahun 1995-1997 Izak mengubah program untuk soundcard menjadi VoIP (Voice over Internet Protocol), sehingga ia bisa berbicara (langsung) di komputer dengan ayahnya, almarhum Aldi Jeni di Jepang.
 
Kegiatan klub tersebut berjalan sampai tahun 1990. Saat yang bersamaan, pada tahun 1987, Michael juga membuka Klub yang sama di Bogor, sebagai cabang klub di Jakarta sekaligus untuk menopang bisnis komputernya disana. Menurutnya, klub tersebut bisa membantu edukasi dan market bisnisnya, karena dengan awareness klien, penggunaan komputer akan jauh lebih besar dan luas.

Sejarah Vespa Konggo


VESPA MASUK KE INDONESIA
Vespa masuk ke Indonesia pada tahun 1960 melalui ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) PT Danmotors Vespa Indonesia/DVI di Pulo Gadung Jakarta yang sekarang sudah tidak aktif lagi (sekarang dipegang oleh PT Sentra Kreasi Niaga/SKN sebagai dealer utama saja. Note: Bukan importir atau distributor eksklusif).

VESPA KONGO
Vespa Kongo adalah vespa penghargaan dari pemerintah Indonesia kepada kontingen Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Kongo saat itu. Pasukan bernama Kontingen Garuda (disingkat KONGA atau Pasukan Garuda) yang turut diperhitungkan di dunia dibandingkan pasukan perdamaian negara lain itu adalah pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Indonesia mulai turut serta mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957. Awalnya, saat Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Mesir langsung mengadakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab dan merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia dengan datang langsung ke Ibu Kota RI waktu itu yaitu Yogyakarta. Untuk membalas budi Mesir dan Liga Arab, Presiden Sukarno membalas pembelaan negara-negara Arab di forum internasional dengan mengunjungi Mesir dan Arab Saudi pada 1956 dan Irak pada April 1960.

Pada 1956 itu, ketika Majelis Umum PBB memutuskan menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I atau KONGA I.

KONGA II dikirim ke Kongo pada 1960 di bawah misi UNOC dengan jumlah pasukan 1.074 orang, bertugas di Kongo September 1960 hingga Mei 1961.

KONGA III dikirim ke Kongo pada 1962 di bawah misi UNOC dengan jumlah pasukan 3.457 orang, terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur, bertugas hingga akhir 1963. Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani pernah berkunjung ke Markas Pasukan PBB di Kongo (ketika itu bernama Zaire) pada tanggal 19 Mei 1963.

Setelah menyelesaikan tugas perdamaian yang berat, Pasukan Garuda menerima tanda penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia berupa Vespa (sumber lain mengatakan ada juga penghargaan berbentuk uang dan beberapa peti jarum jahit). Di pasaran diketahui adanya vespa Kongo tahun 1963 untuk kontingen 2 dan 3. Kurang diketahui apakah kontingen 1 juga mendapatkannya, karena informasi semacam ini tidak mudah didapat. Yang menarik dan tidak diketahui banyak orang, pemberian vespa tersebut tidak terlepas dari tradisi dalam dunia kemiliteran dalam hal kepangkatan. Vespa berwarna hijau 150cc ditujukan bagi tentara yang lebih tinggi tingkat kepangkatannya, disusul vespa berwarna kuning dan biru 125cc untuk tingkat kepangkatan yang lebih rendah.

Selain itu guna membedakan vespa tersebut dari vespa lain yang satu tipe, disematkan tanda nomor prajurit yang bersangkutan pada sisi sebelah kiri handlebar (stang) yang berbentuk oval terbuat dari bahan kuningan serta sebuah piagam penghargaan yang menyertainya. Maka berseliweranlah vespa-vespa tersebut di jalan-jalan sehingga vespa dengan pantat bulat tersebut dikenal sebagian masyarakat sebagai vespa Kongo, sementara sebagian lain justru menyamaratakan dengan nama vespa ndog (telur) karena bagian samping kanan kirinya bulat mirip telur.

Vespa Congo tidak diproduksi di Italia melainkan di Jerman. Dengan berbahan baku plat baja yang lebih keras daripada Vespa bulat umumnya, vespa ini memiliki tingkat kelengkapan yang lebih daripada vespa buatan Italia yang umum beredar di Indonesia (VBB1T maupun VBB2T).

Jacob Oswald Hoffmann adalah orang Jerman yang berjasa memasukkan vespa ke Jerman. Kerjasama vespa dengan Hoffmann putus awal tahun 1955 karena Hoffmann mendesain model sport sendiri. Kemudian vespa bekerjasama dengan Messerschmitt Co. yang kemudian mengeluarkan produksi vespa pertamanya pada tahun 1955 itu juga. Mereka mengeluarkan dua model yaitu Vespa GS yang di Indonesia sering disebut sebagai GS versi Jerman dan 150 Touren. Mereka juga menyediakan purna jual dan service serta spare part bagi Vespa produksi Hoffmann. Kerjasama ini berlanjut hingga akhir tahun 1957. Vespa GmbH Augsburg kemudian berdiri pada tahun 1958 sebagai sebuah perusahaan patungan antara Piaggio dan Martial Fane Organisation, kongsi ini kemudian juga menyediakan beberapa bagian bagi Vespa Messerschmitt. Saat kerjasama dengan Augsburg inilah Vespa Congo diorder untuk Indonesia.

Kedua model yang dibuat saat berkongsi dengan Messerchmitt (150 Touren dan GS) kemudian dikembangkan dengan beberapa modifikasi. Selain itu Vespa GmbH Augsburg juga melahirkan Vespa 125 cc yang pertama kali diperkenalkan dalam tahun 1958. Produksi berlanjut hingga tahun 1963, yang merupakan saat puncak perubahan skuter dan diproduksinya yang sudah tidak terlalu banyak. Selanjutnya, Jerman memilih hanya mengimpor Vespa langsung dari Itali.


Ciri khas Vespa Congo :

1. Spakboard bulat tidak ada sambungannya seperti vespa umumnya.
2. Ring (pelek/teromol) 10 inchi.
3. Punya tonjolan seperti tombol/saklar di sambungan koplingnya (posisi setang sebelah kiri).
4. Spidometer kotak & agak besar (berbeda dengan spidometer VNA/VNB).
5. Ada lambang garuda di body depan sebelah kiri (sekarang jarang yang ada).
6. Di atas spidometer ada lampu kecil seperti lampu cabe.
7. Nomor mesin diawali dengan kode VGLB.
8. Pada BPKB tercantum tulisan ex Brigade Garuda III.

sumber:http://ayazcuu.blogspot.com/2011/12/sekilas-sejarah-vespa-in-indonesia.html

Batik Pekalongan

Batik Pekalongan – Siapa yang tak kenal akan batik pekalongan, motif dan warna yang indah dan bernilai seni, untuk batik pekalongan sendiri telah ada sekitar tahun 1800. Namun, perkembangan secara signifikan baru terjadi setelah Perang Diponegoro atau juga disebut Perang Jawa (1825-1830) di kerajaan Mataram. Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan bangsa Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lampau telah mewarnai kasanah perbatikan di Pekalongan, baik motif maupun tat warnanya.

Batik Jlamprang diilhami dari India dan Arab. Batik Encim dan Klengenan dipengaruhi dari peranakan Cina. Batik Pagi Sore diilhami dari Belanda dan Batik Hokokai diilhami dari Jepang.

Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain, memang tidak lepas dari pengaruh negara-negara tersebut. Perkembangan batik Pekalongan tidak sepenuhnya dikuasai pengusaha bermodal besar, akan tetapi bertopang pada ratusan pengusaha kecil dan hampir semua dikerjakan di rumah-rumah. Sehingga, Batik Pekalongan ini menyatu erat dengan kehidupan masyarakat.

Pekalongan merupakan kota yang paling dinamis dalam mengembangkan batik, karena batik sudah menjadi nafas hidup sehari-hari warga Pekalongan. Kota Pekalongan merupakan industri batik terbesar di Indonesia dan sudah selayaknya kalau dijuluki sebagai Kota Batik.

Sumber: ngulikbatik.multiply.com

Sejara Lahirnya Kabupaten Pekalongan

Keberadaan Kabupaten Pekalongan secara administratif sudah berdiri cukup lama yaitu 3812 tahun yang lalu. Berdasarkan kajian ilmiah oleh Tiem Peneliti Sejarah Kabupaten Pekalongan muncul lima prakiraan tentang kapan Kabupaten Pekalongan itu lahir, lima prakiraan yang menjadi kajian adalah masa prasejarah, masa Kerajaan Demak, masa Kerajaan Islam Mataram, masa Penjajahan Hindia Belanda dan masa Pemerintahan Republik Indonesia.

Hari Jadi Kabupaten Pekalongan telah ditetapkan pada Hari Kamis Legi Tanggal 25 Agustus 1622 atau pada 12 Robiu'l Awal 1042 H pada masa pemerintahan Kyai Mandoeraredja, beliau merupakan Bupati/Adipati yang ditunjuk dan diangkat oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo/ Raja Mataram Islam dan sekaligus sebagai Bupati Pekalongan I, sedangkan penentuan hari dan tanggalnya diambil dari sebagaimana tradisi pengangkatan Bupati dan para pejabat baru dilingkungan Kerajaan Mataram.

Pembangunan Kabupaten Pekalongan sudah dilakukan sejak zaman Pemerintahan Adipati Notodirdjo (1879 -1920 M) di komplek Alun-alun utara no 1 Kota Pekalongan, bangunan tersebut merupakan rumah  bagi para Bupati Pekalongan sekaligus sebagai tempat aktivitas perangkat pemerintahan dengan berbagai elemen masyarakat untuk bersilaturakhmi, bermusyawarah dan mencurahkan pemikiran atau unek-unek berbagai kehendak dihadapan bupati.

Proses pemindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan diawali dengan peresmian sekaligus penggunaan Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan di Kajen oleh Bupati Drs. H Amat Antono pada tanggal 25 Agustus 2001, kepindahan itu merupakan salah satu tonggak sejarah sebagai momen diawalinya Kajen sebagai Ibukota Kabupaten Pekalongan.

Secara bertahap pembangunan untuk melengkapi prasarana menjadi simpul-simpul penggerakan dan pengembangan sebagai sebuah ibukota kabupaten juga telah dibangun rumah dinas Bupati dan Pendopo yang selesai bertepatan dengan hari Jum'at Pon 19 Dzulhijjah 1423 H atau tanggal 21 Pebruari 2003 yang diresmikan secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri Bapak Hari Sabarno atas nama Presiden Republik Indonesia Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri pada tanggal 5 April 2003.  Untuk peringatan hari jadi Kabupaten Pekalongan pada tahun 2006 ini adalah merupakan peringatan hari jadi yang ke 834 tahun.

Untuk mendayagunakan kegiatan pembangunan daerah secara merata diperlukan suatu acuan untuk memotivasi, menggerakkan dan mengerahkan seluruh potensi masyarakat Kabupaten Pekalongan  Motto Kabupaten Pekalongan adalah Kota " SANTRI" merupakan singkatan dari  Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapih dan Indah.

sumber:pekalongankab.go.id